Ujian Tambahan untuk Si "Nggak Enakan"
Perjalanan Mencari Jalan (bagian 2)
Pergulatan batinku dengan rasa sepi dan putus asa ternyata berlangsung sangat lama. Beberapa cara aku lakukan untuk terlepas dari semua itu. Tapi tetap, aku selalu kalah, aku selalu jatuh ke jurang yang lebih dalam.
Hidupku menjadi tak ada rasanya, mati rasa. Aku tetap makan dan minum, tetap pergi kuliah dan tetap mengikuti berbagai acara. Tapi bayang-bayang kehancuran dunia karena krisis iklim itu selalu menjadi hantu yang melekat di kepalaku. Kemanapun aku pergi, aku berjalan seperti zombie, setengah hidup setengah mati.
Virus covid yang menyerang dunia pada akhir tahun 2019 lalu juga memperparah situasi. Aku semakin putus asa dan semakin menutup diri. Rasanya dunia akan kiamat lebih cepat. Hantu itu selalu menari-nari di dalam kepalaku setiap hari, menyeringai dan mengejekku karena aku semakin ketakutan.
Deritaku rasanya semakin tak tertahankan karena aku merasa tidak enak untuk berbagi. Aku tidak bercerita kepada siapapun tentang ini karena khawatir mereka tertular rasa takut dan putus asa itu juga. Jadilah ku tangung sendiri semua ini sampai bertahun-tahun sudah.
Aku selalu berharap ada yang datang menolongku. Aku menunggu ada tali yang terulur untuk membantuku keluar dari jurang kegelapan itu. Bertahun-tahun aku menungu, namun tak ada yang datang.
Tapi sebenarnya itu juga akibat kebodohanku. Aku menunggu dan hanya diam saja, aku tidak berteriak, tidak juga memberikan tanda. Aku ingin ditolong tapi tidak minta tolong. Lagi-lagi karena nggak enakan, aku tidak mau merepotkan orang. Ah, bodoh sekali mana orang tau kalau kamu sedang tidak baik-baik saja?
Lama-lama aku lelah sendiri dengan hantu-hantu krisis iklim itu, jadi aku pasrah saja. Terserah apa yang akan terjadi pada dunia, terserah mau bagaimana kehidupan di masa mendatang. Tapi ajaibnya, semakin aku pasrah, semakin aku lega. Bahkan aku mulai menemukan jalan baik menuju keselamatan.
Aku menenangkan diri, pikiran tenang, tak ada kecamuk, tak ada overthinking. Seperti kamu yang menenangkan diri ketika akan tengelam di kolam renang. Ketenangan itu membuat tubuhmu mulai mengapung sendiri, dan kau akan selamat. Ketenangan itu membuat pikiranku mulai menjernih, tidak lagi larut dalam ketakutan. Pada akhirnya aku sadar dimana posisiku sekarang, apa saja yang bisa aku lakukan, dan apa peran yang bisa aku ambil.
Aku bersyukur sekali karena bisa berada di fase kesadaran dan ketenangan ini. Tapi dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk mencapainya. Andai saja aku meembuka suara sejak awal, mungkin banyak nasihat dan petuah yang bisa mempercepat ketenangan dan kesadaran ini.
Komentar
Posting Komentar