Ketika Mata Terbuka Lalu Kehilangan Arah

Perjalanan Mencari Jalan (bagian 1)

Aku lahir pada tahun 1997, tapi sejujurnya aku belum pernah merasa hidup. Aku adalah manusia biasa, yang lahir di tempat biasa, berasal dari keluarga biasa, dan semua yang terjadi dalam hidupku terasa biasa-biasa saja.

Meski begitu, tetap ada hari-hari dalam hidupku yang cukup berarti untuk dikenang. Seperti hari aku mendapatkan nasi kotak saat acara khataman Al-Qur'an Cindy dan Alvin, hari saat aku mendapat peringkat 1 saat SMP kelas VII, hari saat pertama kali aku membaca 1 buku, dan hari-hari sedih yang sulit dilupakan.

Aku mulai merasa hidup setelah berada di bangku kuliah. Tepatnya ketika aku mengekspose diri pada pengetahuan. Aku seperti punya percikan api yang menyala di dalam dadaku. Bersemangat bangun setiap pagi untuk membaca banyak buku dan mendengarkan kuliah dari dosen-dosen kesayangan.

Mata kuliah favoritku adalah mata kuliah yang diampu oleh pak Suhendra, dan beberapa dosen yang aku sudah lupa namanya (maaf pak dosen 😖). Sangat ku sukai karena para bapak dosen ini sering berbagi pengetahuan di luar mata kuliah. Sesuatu yang sangat ku butuhkan setelah membaca buku-buku mata kuliah yang sudah direkomendasikan.

Berhubung aku berada di jurusan yang mengkaji ekonomi dan bisnis, aku jadi tau banyak tentang pasar dunia dan sahabat dekatnya: perkembangan teknologi. Waktu itu isu revolusi industri 4.0 mulai populer di Indonesia, sekitar tahun 2015.

Aku semakin tertarik dengan segala hal yang ada di dunia, terutama perkembangan teknologinya. Internet of Things, Cloud Computing, Artificial Intelligence, dan yang lain membuatku susah tidur seperti orang yang sedang jatuh cinta.

Aku selalu tidur dengan mengulum senyum, tidak sabar ingin cepat-cepat bangun agar bisa kembali membaca dan menonton ceramah-ceramah dan video-video tentang dunia ekonomi dan teknologi.

Musim pembelajaran ini berlangsung kira-kira satu tahun lebih. Selanjutnya sesuatu yang sangat membingungkan terjadi pada tahun 2017. Saat itu aku menemukan bahwa dunia ekonomi yang tengah berjalan ini berdampak sangat buruk bagi alam. Aku menjadi tau kalau sekarang dunia sudah sekarat. Jadi tau isu global warming, climate change, bencana-bencana, kerusakan lingkungan dan lain lain.

Semua itu membuatku merinding dan kehilangan semangat. Rasa pesimis pun mulai menggerogoti hati. Semakin aku tau semakin aku takut. Semakin aku mencari informasi dan solusi yang sudah dipikirkan orang-orang, aku semakin pesimis. Karena memang, menurut perhitungan para ahli, manusia sekarang sudah keterlaluan sekali.

Apalagi ditambah film-film sci-fi yang menayangkan cerita-cerita distopia. Aku semakin kehilangan jalan dan tujuan. Aku jadi menyesali keberadaan ku di dunia ini. Aku menyesal karena hidup di zaman ini.

Dan miris sekali rasanya melihat orang-orang di sekitarku yang masih menjalani hidup seperti biasa. Mereka semua terlihat baik-baik saja. Aku juga menyesal kenapa aku harus tau kondisi bumi ini. Andai aku tidak pernah penasaran, pasti aku bisa seperti mereka. Tetap mengejar apa yang mau mereka kejar dan hidup biasa saja.

Semakin bertambah hari, aku semakin pusing. Semua informasi yang aku konsumsi berubah menjadi racun yang merusak diri. Singkat cerita, aku jadi tertekan waktu itu. Aku bercerita pada beberapa teman, tapi mereka tidak mengerti. Mereka hanya "iya iya" saja tanpa ada tanggapan serius. Padahal aku sudah menceritakan nasib peradaban manusia yang sudah di ujung tanduk.

Dari sana aku mulai merasa kesepian. Kesepian bukan karena secara fisik terpisah jauh dari orang-orang, tapi lebih karena tidak ada yang mengerti aku. Rasanya percuma saja bertemu orang-orang, sama saja keadaannya ketika aku bercerita pada manusia ataupun pada kaca jendela.

Akhirnya aku mulai banyak tidur dan menyendiri. Aku jadi sering marah dan menangis. Pada puncaknya, (yang sekarang sungguh aku sayangkan) dulu aku pernah melakukan kekerasan pada diri sendiri. Itu terjadi karena aku tidak tahan dengan segala hal yang membuatku pusing, tertekan, dan putus asa.

Kalau dilihat dari sudut pandang saat ini, semua itu terlihat sederhana. Harusnya bisa ku hadapi dengan mudah. Tapi dulu semua rasa itu sungguh nyata. Kebingungan dan sakit itu benar-benar membunuhku. Boleh dibilang aku sudah mati waktu itu setelah sempat merasakan hidup sesaat.

Komentar