Cucian


Buku-buku dan alat tulis tercecer di sana-sini. Gelas bekas minum, mukena untuk sholat, cucian yang belum dilipat, baju-baju yang digantung di belakang pintu, kabel-kabel charger, bahkan hey! kenapa ada batu ulekan di atas kertas-kertas itu?

Suasana berantakan kamarku seolah menunjukkan isi kepalaku yang juga sedang berantakan. Aku merasa sedang menghadapi hubungan buruk dengan kerapian dan kebersihan barang-barang di kamarku, begitu juga dengan pekerjaan-pekerjaanku. Harus diselesaikan.

Baiklah, aku harus bergerak. Mulai merapikan dan menata barang-barang ini sebelum aku merapikan dan menata urusan-urusan dan rencana-rencana hidupku. Ingat! Clean room equals clean mind.

Ada setumpuk cucian kering yang dari dua hari lalu belum aku lipat. Mereka masih saja sabar menunggu di atas kursi, tidak bergerak, tidak bisa rapi sendiri. Melipat baju kini menjadi tugas yang sangat menjengkelkan bagiku. Padahal dulu aku sangat menyukainya.

Aku jadi teringat waktu kecil, saat ibuku mengurusi cucian. Aku suka menonton ibu mencuci dengan sabun yang harumnya sangat enak dan nyaman. Ibu juga memeras cucian dengan tangan dan mengibaskan baju-baju itu sebelum menjemurnya di halaman.

Aku juga suka sekali duduk dan diam menonton ibu melipat baju dan menyetrika. Ingin sekali rasanya aku tidur-tiduran di baju-baju yang kering, bersih, harum dan hangat itu. Tapi tentu ibu akan marah kalau aku melakukannya.

Aku bertanya-tanya, apa dulu ibu menyukai pekerjaan itu? Rasa-rasanya ibu tidak pernah mengeluhkan cucian. Apa rahasianya?

Komentar