Memanah
Sekitar pertengahan tahun 2021 lalu aku diajak keponakanku bergabung dengan klub memanah yang ada di dekat rumah kami. Katanya, memanah itu seru sekali, bisa melatih fokus dan kesabaran.
Di dalam hati aku bilang, apanya yang seru kalau yang dilatih adalah fokus dan kesabaran? Bukankah itu terdengar membosankan?
"Ayo Kaakk.. coba sekaliii... aja" katanya. Ya sudah, aku akhirnya ikut juga.
Pertama melihat keponakanku latihan, ku pikir memanah itu mudah saja. Tinggal pegang busurnya, ambil anak panah, arahkan ke target, dan taadaa.. anak panah tepat mengenai sasaran.
Ternyata tidak semudah itu. Menarik anak panah dari busurnya ternyata susah, keras, dan butuh tenaga. Mengarahkannya ke target juga tak kalah payah.
Dan setelah dilepaskan, ternyata tidak tepat sasaran. Anak panahku meleset mendarat di tanah. Aku tertawa, loh kok susah? Aku jadi penasaran. Coba lagi, coba lagi, coba lagi.
Kata pelatih keponakanku, memanah memang tak segampang yang terlihat. Hampir semua orang gagal pada percobaan pertama. Makanya dibutuhkan latihan.
Dan latihan itu harus ditekunkan, tidak boleh malas-malasan. Agar kemampuan kita terus berkembang.
Beliau juga berkata, "Dalam hampir semua urusan, keberhasilan itu tidak terjadi pada satu atau dua kali percobaan, kadang dibutuhkan tiga atau empat puluh kali percobaan."
Ya, ku pikir beliau benar. Keberhasilan biasanya tidak terjadi pada satu atau dua kali percobaan. Persis seperti memanah. Coba lagi, evaluasi, coba lagi, perbaiki.
Komentar
Posting Komentar